Laman

18 Januari 2013

[FF] With You (Part1)

Judul: With You (Part 1)
Rating: PG-15
Character: Yoshizawa Kyoko (OC), Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke
Genre: Romance, School, Band
A/N: untuk menepati janji post di blog. yang waktu itu saya ceritain. FF pertama saya, judulnnya webe gitchu deh~selamat membaca.


“Kyoko-Chan! Tunggu!” seseorang memanggilku saat aku ingin memasuki kelas, tentu saja aku mengenal pemilik suara tersebut. Aku menoleh kebelakang dan mendapati Yuto tepat berada di depanku. “Kyaaaaa!!” Aku berteriak karena kaget, padahal suara yuto tadi cukup jauh. “Ah! Maaf Kyoko-chan, aku nggak bermaksud bikin kamu kaget” Ugh Yuto, rasanya jantungku berhenti seketika tau! Tapi untunglah itu kamu, kukira hantu atau bisa saja stalker atau pembunuh bayaran. Hey! Mana ada Pembunuh bayaran sih di sini.

Yuto itu satu-satunya teman laki-lakiku. Aku tidak terbiasa bermain dengan anak laki-laki karena menurutku mereka selalu berbicara dengan cepat. Bertanya dengan cepat dan merasa ingin dijawab dengan cepat pula, membuatku canggung. Tapi berbeda dengan yang satu ini, Nakajima Yuto, temanku sejak SMP. Dia berbicara padaku selayaknya teman-temanku yang perempuan berbicara padaku. Mengobrol dengannya sangat menyenangkan. Kini aku sudah SMA, tidak terasa sudah 4 tahun aku berteman dengannya. Ya, kami satu sekolah lagi.

Ada banyak hal yang bisa aku pelajari dari Yuto. Dia selalu ceria, selalu baik kepada semua orang itu sebabnya dia punya banyak teman dan popular disekolahnya. Dia memiliki banyak bakat. Aku juga ingin menjadi lebih baik, aku mengaguminya. Bisa mengobrol dan tertawa bersamanya adalah keberuntungan yang sangat berharga bagiku.

Di sinilah aku, berbicara dengannya. “Jadi.. Ada apa yuto?” Aku melanjutkan tujuan utama dia memanggillku. “Oh ya! Minggu ini aku mau latihan drum, mau ikut nggak? “Un, mau banget!”aku meanggukkan kepala dan menjawab dengan cepat. Kalau soal latihan drum aku nggak mau ketinggalan. “Oke, jam 9 di depan stasiun dekat sekolah ya! Bye” Yuto hendak kembali ke kelasnya karena memang bel sekolah akan berbunyi sebentar lagi. “Oi Yuto!” Cegatku. “Ada apa?” Yuto membalikkan badannya. “Lain kali jangan kagetin aku lagi, nanti kalau jantungku copot gimana?” Aku memanyunkan mulutku. “Yah! Jangan copot dong! Susah dipasang nanti. Okkey Kyoko!”

---

Bel tanda pulang sekolah berbunyi, pastinya itu salah satu kabar gembira bagi murid-murid. Aku sedang merapikan buku ketika temanku menghampiriku “Kyoko-chan..minggu ini bisa temani aku ke toko buku nggak…??”. Aku menjawab “Maaf Sae-chan, aku sudah ada janji dengan Yuto”. Raut wajah kecewa terpancar di wajahnya “Yah.. Hmm ya sudahlah tidak apa-apa nanti aku minta tolong yang lain saja ya. “Tapi.. Lain kali kita pergi bersama ya!” Aku merasa tidak enak, tapi yah.. aku sudah janji duluan dengan Yuto. “Date dengan Yuto ya?” Ah apa maksudnya sae!? Nada bicaranya membuktikan bahwa ia sedang menggodaku. “Enak saja, jangan bicara yang tidak jelas seperti itu. Aku mau menemani Yuto latihan drum” Sae menyipitkan matanya seolah-olah aku berbohong. Sae saat ini sedang asyik di dunianya senidiri aku rasa, ya, meledek temannya.

Aku tidak menanggapi ocehan yang keluar dari mulut Sae. Aku tahu orang pasti akan berubah menjadi menyebalkan bila temannya melakukan hal yang tidak biasa seperti ini. Tapi yah, aku sudah biasa menemani Yuto latihan drum jadi.. aku rasa aku tidak perlu menanggapi ocehannya, aku juga tahu kalau sebenarnya dia tahu yang sebenarnya. Hanya saja mulutnya tidak bisa berhenti untuk menggodaku.

“Sudahlah Kyoko, cepat tembak dia sebelum ada yang duluan.” Ucapan sae mengejutkanku. “Lagipula.. Yuto itu kan populer di antara semua murid di sini” tambahnya. Aku merasakan ada sebuah pisau yang menusuk dadaku. “Itu tidak benar! Aku hanya kagum. Kau pasti tahu kan?” Aku menyangkal semua ucapan Sae. Badanku kaku, yang kulakukan hanya duduk terdiam di bangku ini. Menatap kosong ke arah papan tulis yang jaraknya jauh berada di depanku.  “Sudahlah Kyoko, suatu saat kau akan menyadarinya.”  Perasaanku bercampur aduk di dalam ruangan yang sempit ini.  “Aku nggak mau ada yang berubah! ..itu saja. Aku keluar duluan ya” Aku sudah tidak kuat duduk di bangku yang lama kelamaan terasa panas ini. Aku memutuskan keluar dan membawa diriku sejauh mungkin dari kelasku.

Aku berhenti dan bersandar pada koridor yang menghadap ke arah lapangan. Dan kenapa aku jadi terpengaruh dengan ucapan Sae? Kenapa perasaanku seperti ini? Rasanya ingin marah. Tapi marah karena apa? Aku merasa sangat tidak beres hari ini. Tepatnya setelah pulang sekolah.

Udara hangat memulihkan pikiranku yang sempat kacau. Rasanya sangat bebas dan menyenangkan bisa menghirup udara seperti ini. Bahkan, aku sendiri tidak sadar kalau aku sedang melamun ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. “Dingiiiin...” Aku mengelus-elus pipiku agar rasa dingin bisa pergi menjauh dari pipiku yang terkena angin ini. “Y..Yuto? Iseng sekali..” Ternyata dia membawa dua buah kaleng soda dan menempelkan kaleng itu ke pipiku. Rasa dingin itu benar-benar menganggu, seakan-akan hal yang ingin kulupakan kembali menghantuiku. Entah rasa dingin itu, atau karena aku sadar yang datang adalah Yuto.

“Hee.. Kyoko-chan kenapa?” Yuto memanyunkan bibirnya dan itu salah satu hal yang kusuka. Dan saat melihat dia yang seperti itu bebanku pun menghilang “Aku nggak apa-apa kok, untung kamu datang” Mood-ku pun berubah menjadi lebih baik, ini bukan salah siapapun, syukurlah. “Yakin? Ini untukmu” Yuto memberikan sekaleng soda segar “Uwaa! Ureshii! (Aku senang!) Arigatou ne Yuto.” Senyumku memenuhi mukaku yang sempat terlihat pucat. “Yatta! Aku membuatmu tersenyum. Aku nggak suka liat Kyoko sedih.” Yuto terlihat sangat girang. “Be..benarkah?” Mukaku terasa panas, gawat! Jangan sampai berwarna merah. “Waa! Mukamu yang seperti itu.. kawaii” Yuto tertawa, tangannya yang hangat menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut. “Yuto, yamete yo!” Aku memohon. Lalu Yuto mulai mengocok-ngocok kaleng sodanya. “Loh Yuto nanti sodanya keluar!!” Aku panik melihat tindakan Yuto yang sangat aneh. “Nggak apa-apa. Kalau isinya keluar seru loh.” Lalu aku mempraktikan apa yang dilakukan Yuto, mungkin terlihat aneh tapi untungnya kami berdiri di pinggir lapangan jadi tidak perlu membasahi lantai sekolah.

---

Yey! Hari ini pasti menyenangkan bisa lihat Yuto main drum lagi. “Ohayou” Sapaku dengan ramah. “Ohayou, Kyoko-chan” Sesosok tubuh mungil yang memiliki tinggi sama denganku membalas sapaanku. “Yamada Ryosuke?” Di mana Yuto?

Lalu sesosok tubuh tinggi yang kukenal menjawab “Ohayou Kyoko-chan! Aku lupa memberitahumu kalau kali ini Yama-chan ikut kita.” Yuto merangkul tubuh yamada yang lebih kecil dari dirinya. “I..Iya tidak apa-apa kok” Aku memaksa senyumanku. Aku sama sekali tidak pernah bicara dengan Yamada. Yamada Ryosuke itu sangat terkenal di sekolahnya. Aku tidak menyangka kalau Yamada adalah teman dekat Yuto

---

“Hm... Yamada-kun ingin melihat Yuto main drum juga ya?” Tanyaku di dalam kereta. Aku sangat penasaran. “Lebih dari itu Kyoko, Yama-chan ingin latihan main bass, jadi kami bisa main bersama” Yuto menjelaskan, raut wajahnya terlihat gembira. “Ya, biasanya aku latihan sendirian.” Yamada terlihat santai.

“Eeh!? Statsiun kita sudah lewat yuto!!” Aku melompat dari bangku kereta karena kaget, lalu aku mendengar suara tawa. “Kau harus lihat ekspresimu tadi! Hari ini kita menyewa studio.” Yamada-kun menertawakanku. Huh kenapa harus tertawa sih. “Kau lihat kan Yuto? Ekspresi temanmu ini lucu sekali” Yamada tertawa sampai air mata jatuh dari matanya. Kenapa sih anak ini harus ikut, menyebalkan sekali. Ah pantas saja Yuto tidak latihan di rumah, anak seperti ini bisa menghancurkan isi rumah Yuto!

“Yama-chan! Jangan ganggu Kyoko aku tidak suka” Raut wajah Yuto berubah “Maksudku..jangan buat Kyoko merasa tidak nyaman” Yuto memalingkan wajahnya, menghadap jendela. Dia memperbaiki ucapannya, tapi terdengar sama saja ditelingaku. Yamada-kun tersentak mendengar ucapan Yuto lalu menyeringai. Aku tidak suka ekspresi Yamada-kun waktu itu.

Akhirnya Yuto membelaku. Beberapa menit yang lalu aku mengira Yuto telah dihipnotis Yamada-kun sehingga sama sekali tidak berbicara selama perjalanan di dalam kereta. Rasanya aku tidak kuat kalau harus menghadapi ocehan Yamada-kun.

Bukan pertama kalinya bagiku memasuki gedung sewa studio, jadi saat Yuto dan Yamada-kun sedang bersiap-siap, aku mengambil kursi dan duduk di pojok ruangan. Yamada-kun pun bersiap-siap mengeluarkan Bassnya.

Mereka latihan dalam durasi waktu yang cukup lama. Memainkan musik seakan dunia hanya milik berdua. Aku hanya bisa cemberut karena bosan sekaligus kagum melihat permainan mereka. Tapi aku merasakan perasaan asing baru saja mendatangiku. Apa namanya? Mereka menyebutnya dengan kata cemburu. Mana mungkin aku cemburu, lagipula aku rasa mereka sahabatan sejak kecil.  kurasa Yamada-kun sempat melihatku. Dia terkekeh, sangat menyebalkan!

“Tahu tidak Kyoko? Kami akan membuat band, menurutmu penampilan kami bagaimana?” Terdengar Yamada-Kun sedang memanas-manasiku. “Menurutku, penampilanmu kurang.” Aku menunjuk lurus kearah Yamada dari pojok ruangan. “Itu lagu yang kusuka dan kamu membuatnya buruk.. Kalau Yuto, sebaiknya aku tidak berkomentar apapun” Aku memalingkan wajahku, terdengar gelak tawa Yuto setelah itu. “ Dia baru latihan, Kyoko. Kalau begitu aku tidak bisa membuat band ya?” Yuto memperhatikan Yamada-kun dengan seksama.

Jadi soal band barunya itu benar . “Aku kira Yamada-kun berbohong soal band”. “Apa lihat-lihat?” Yamada-kun melipat kedua tangannya dan memalingkan wajahnya. “Iya..Iya.. Maafkan aku Yamada-kun.” Aku meminta maaf atas tuduhanku. “Beneran kok, dan kami kekurangan orang.” Yuto menjelaskan kepadaku. “Kalau begitu aku ikut” Menawarkan diri, lalu terdengar sebuah suara langsung menyusulku “Kau di terima Kyoko-chan!!” Itu suara Yamada-kun yang penuh semangat. “Kalau begitu kau pegang alat musik apa?” Tanya Yamada-kun. “Kyoko tidak bisa main alat musik apapun, Tapi aku akan coba mengajarimu gitar.”  Yuto ingin mengajariku cara bermain gitar? Yang benar saja!

“Tunggu dulu! Itu membuang-buang waktu, Yuto!” Yamada membantah. Sesuatu dalam diriku juga menolak, walaupun ingin tapi aku tidak mau merepoti mereka. “A..Aku bisa menyanyi, aku bisa jadi vokalis kalian!”. “Tidak Kyoko, aku akan tetap mengajarimu main gitar, aku dan Yama-chan, kita bertiga menyanyi.” Jelas Yuto. “Lagipula kita tidak terburu-buru, ya kan? Hanya perlu bersenang-senang dengan bandnya.” Mengedipkan mata ke arahku. Huh! Memangnya aku yang menentukan band ini. “Ya sudahlah, aku terserah saja.” Yamada-kun meletakkan bassnya dan berjalan sambil memasukkan tangan ke saku celana.

“Jadi bagaimana? Aku bisa mengajarimu setelah pulang sekolah.” Bujuknya. “Mau ya? Mau ya? Tidak akan lama.” Sekarang mengatupkan kedua tangan dengan mata yang tak bisa ditolak. “Baiklah… Yu--to. Kalau begitu jadikan aku gitaris handalmu, aku akan membuat orang-orang terkagum melihat kita dan lagu kita.” 

Tidak ada komentar:

Entri Populer